Maratibul Dakwah
Dakwah dalam islam adalah sebuah kewajiban, fardlu 'ain bagi orang yang berilmu dan dalam satu daerah tidak ada seorangpun yang berilmu kecuali dia, fardlu kifayah bagi orang yang berilmu jika di tempatnya masih ada orang-orang alim selain dia.
Bagaimanapun hukumnya dakwah merupakan sesuatu yang sudah "tersyariatkan" di dalam agama islam. nabi Muhammad adalah seorang da'i yang berdakwah mengajak kaumnya untuk masuk ke agama islam, beliau muncul sebagai seorang da'i bukan seorang alim faqih yang muncul langsung mengajari umatnya hukum-hukum islam, beliau adalah seorang da'i yang muncul kepada kaumnya untuk meninggalkan berhala. Beliau adalah seorang da'i yang menanamkam kepercayaan, rasa tentram dan aman kepada pengikutnya. Setelah tertanam kepercayaan pengikutnya kepadanya barulah beliau mengajarkan hukum-hukum islam secara bertahap.
Ssebagai seorang da'i yang tahu bahwa dakwah dalam islam sudah tersyariatkan sejak masa " bi'satunnabi" maka menjadi kewajiban seorang dai untuk meneladani dan mengikuti semua uslub atau tata cara dakwah sohibul millah.
Di dalam al quran allah telah memberikan petunjuk dan tartib tata cara berdakwah yang ditunjukkan kepada nabi Muhammad untuk diikuti umatnya. Ada 3 marhalah (tahapan) dalam berdakwah di dalam al quran yang menunjukkan tartib berdakwah seperti yang ditunjukkan Allah kepada rasulnya.
dakwah untuk diri sendiri :
ada 2 tahapan untuk berdakwah pada tahapan ini :
a. belajar
قال تعالى : اقرأ باسم ربك الذي خلق
dalam ayat tersebut Allah memerintahkan nabi untuk membaca, membaca adalah pintu masuknya ilmu pengetahuan, dengan perintah membaca allah menyuruh nabinya untuk mengislahkan dirinya sendiri, memperbaiki diri sendiri sebelum nantinya memperbaiki orang lain. Memperbaiki diri sendiri dengan cara membuka cakrawala, ilmu pengetahuan, belajar menghilangkan kebodohan yang pada masa itu umat manusia benar-benar dikuasai oleh kebodohan.
Seperti halnya nabi, begitu juga para da'i sekarang ini, sebelum mereka mulai terjun berdakwah ke masyarakat, yang pertama kali harus dilakukan adalah berdakwah pada dirinya sendiri dahulu. Mereka harus mengislahkan (memerbaiki) diri sendiri sebelum mengislahkan diri orang lain. Cara awal untuk mengislahkan diri adalah belajar, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal berdakwah di masyarakat. Sungguh disayangkan sekali jika seorang da'i berdakwah di masyarakat tanpa bekal ilmu, apakah bisa mereka disebut penerus dakwah rasul jika mereka tidak mengikuti apa yang dilakukan rasul? Bagaimanakah jadinya masyarakat jika da'inya adalah seorang yang bodoh tidak berpengetahuan?bukanlah islahul mujtama' yang terjadi akan tetapi ifsadul mujtama'. Masyarakat akan terhancurkan akidahnya dengan dakwah yang dia sampaikan.
b. pendekatan diri kepada Allah
قال تعالى : يا أيها المزمل قم الليل إلا قليلا نصفه أو انقص منه قليلا أو زد عليه و رتل القرآن ترتيلا
Didalam ayat tersebut allah menunjukkan kepada rasulnya cara mengislahkan diri dengan melaksanakan shalat malam dan membaca al quran. Setelah diperintahkan untuk membaca yang maknanya adalah belajar, bagi seorang da'i cara yang harus dilakukan untuk mengislahkan diri sendiri adalah mendekatkan diri kepada allah dengan melaksanakan shalat malam dan membaca al quran. Hal ini penting dilakukan karena shalat adalah penghubung antara hamba dan tuannya, seperti sisebutkan dalam ungkapan bahasa arab :
لا يسمى الصلاة إلا لصلة بين الرب و عبده
Terutama shalat malam, waktu yang mustajab untuk berdoa, waktu yang paling tepat untuk berhubungan dengan sang pencipta. Allah sendiri telah meyebutkan keutamaan shalat malam dalam al quran dengan firmannya :
و من الليل فتهجد به نافلة لك عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا
Sedangkan perintah membaca al quran, allah sendiri telah berfirman di banyak tempat di alquran yang menyebutkan keutamaan membaca al quran, karena al quran adalah sebagai pengingat, obat, petunjuk, rahmat dan sebagai hukum dalam kkehidupan umat manusia.
قال تعالى : يا أيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم و شفاء لما في الصدور و هدى و رحمة للمؤمنين
و قال تعالى : إنا أنزلنا إليك الكتاب بالحق لتحكم بين الناس بما أراك الله
Para wali songo pun juga telah memberitahukan keutamaan membaca al quran sebagai obat hati dengan salah satu syairnya yang terkenal yaitu : tombo ati iku limo wernane moco al quran angen-angen sak maknane……..
Dengan shalat dan membaca al quran hati akan tentram dan tenang dan inilah yang dibutuhkan seorang da'i ketika berdakwah di masyarakat.
dakwah untuk keluarga dan kerabat.
قال تعالى : و أنذر عشيرتك الأقربين
قال تعالى : و أمر أهلك بالصلاة و اصطبر عليها
Allah memerintahkan nabi untuk berdakwah kepada keluarga dan kerabatnya untuk masuk islam dan mendirikan sholat sebagai kewajibannya.
Sebagai seorang da'I yang meneruskan dakwah rasulnya, wajib baginya untuk berdakwah kepada keluarganya dahulu sebelum dakwah disebarkan kepada masyarakat. Hal ini harus dilakukan karena dakwah tidak akan berhasil di masyarakat jika keluarganya sendiri tidak/belum berhasil dia dakwahi. Kepercayaan masyarakat akan hilang sebelum dakwah tersampaikan.
dakwah kepada masyarakat.
قال تعالى : يا أيها المدثر قم فأنذر
و قال تعالى : فاصدع بما تؤمر و أعرض عن المشركين
Allah memerintahkan kepada rasulnya setelah melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi untuk secara terang-terangan dalam dakwahnya. Hal ini menunjukkan bahwa nabi diutus untuk menyampaikan apa yang dia dapat dari allah kepada umatnya, bukan hanya dikhusukan untuk dirinya sendiri dan keluarganya saja.
Begitu juga halnya dengan seorang da'I yang meneruskan dakwah rasulnya, setelah menempuh tahapan-tahapan di atas, hal terakhir yang harus dilakukannya adalah berdakwah untuk masyarakat. Dia harus menyampaikan apa yang dia ketahui tentang agama kepada masyarakat, dia dilarang untuk menyembunyikan apa yang dia ketahui sebagaimana rasul dilarang utnuk menyembunyikan apa yang di wahyukan allah kepadanya.
قال تعالى : يا أيها الرسول بلغ ما أنزل من الرسول و إن لم تفعل فما بلغت رسالته
Terdapat berbagai cara untuk berdakwah kepada masyarakat.sesuai dengan bidangnya, seorang guru berdakwah dengan mengajar para muridnya, seorang pemimpin berdakwah dengan memberi contoh dan teladan kepada bawahannya seorang hakim berdakwah dengan cara menghakimi seadil-adilnya. Begitulah seterusnya shingga andaikata semua umat islam seperti halnya di atas islam akan kembali ke kejayaannya seperti saat rasulullah masih hidup, dan seorang da'I yang mengikuti sunnah rasulullah dia merupakan khalifah beliau, penerus perjuangan dan dakwah beliau dalam menjadikan islam sebagai diinul 'iz wassalaamah.
Wallahu a'lam.
Minggu, 19 April 2009
Selasa, 27 Januari 2009
Sekilas tentang Syiah
Sudah banyak kita mendengar cerita tentang syiah dan beberapa akidah mereka yang bertentangan dengan akidah ahlu sunnah wal jamaah. Bukan hal baru lagi kalau kita sering membaca buku yang isinya menentang syiah, menolak ajarannya dan menjawab dalil-dalil syiah yang bertentangan dengan akidah kaum sunni. Akan tetapi di sisi lain kita juga menemukan tulisan-tulisan yang menguatkan keberadaan kaum syiah. Yang memprihatinkan adalah sebagian dari tulisan itu ditulis oleh para pelajar indonesia yang sedang belajar di Iran khususnya pelajar yang berada di daerah Qom, Iran.
Di Indonesia sendiri akhir-akhir ini gencar terjadi pen-syiah-an, rata-rata mereka yang disyiahkan adalah orang-orang awam yang tidak tahu agama dan orang-orang ekonomi menengah kebawah. Banyak daerah di indonesia yang sudah menjadi tempat sasaran pensyiahan kaum syiah. Daerah Pemalang, Pasuruan dan Malang merupakan contoh kecil beberapa daerah yang sudah menjadi ladang pensyiahan. Di Pemalang orang-orang diiming-imingi dengan dana bantuan untuk renovasi masjid, sarana ibadah dan madrasah, di Pasuruan ada sebuah daerah yang di situ menghalalkan nikah mut'ah -kalau sudah menonton film kawin kontrak ya seperti itulah adanya daerah itu-. Di Malang lebih menggegerkan lagi, sekelompok kaum syiah mengadakan haul arba'in imam Husein di sebuah gereja. Di dalam gereja mereka bernyanyi sambil memukul-mukul tubuh mereka meniru gerakan orang-orang syiah waktu perayaan hari asyura' di Karbala Iran. Coba bayangkan apakah layak seorang imam seperti imam Husein haulnya diadakan di sebuah gereja, atau apakah karena mereka tidak mendapatkan tempat lagi untuk merayakan haul imam Husein selain di gereja karena umat islam tidak menerima keberadaan mereka?
Salah satu hal yang membuat syiah berbeda dengan kaum sunni adalah penisbatan label ma'shum kepada para imamnya –di samping banyak hal lain yang membedakan mereka dengan kaum sunni- mereka menyangka bahwa para imamnya adalah orang-orang yang ma'shum -tidak pernah tersentuh dosa- sama halnya dengan para nabi. Doktor Ahmad Annablusy seorang doktor dari Urdun (Jordania) yang sudah 2 tahun lebih meneliti tentang syiah ketika berkunjung ke Ahgaff University menyapaikan bahwa ada 5 hal yang menunjukkan kesalahan / kelemahan sangkaan syiah tersebut :
1. tidak ada satu orang pun dari ahli bait yang berkata seperti itu, jikapun ada pastinya mereka sudah terpengaruh paham syiah dan hanya sedikit sekali dari beribu-ribu ahli bait yang tersebar di seluruh dunia.
2. awal orang yang mengatakan hal tersebut ( kema'shuman imam) bukanlah berasal dari ahlu bait, akan tetapi orang-orang dari daerah Qom dan Kufah yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari Madinah yang merupakan kediaman para imam yang mereka anggap ma'shum tersebut.
3. tidak ada seorangpun dari para anak-anak imam tersebut yang berkata tentang kema'shuman orang tuanya.
4. begitu juga saudara-saudara para imam tersebut, tidak ada satu orangpun yang berkata tentang kema'shuman saudara-saudara mereka.
5. tidak ada satu orangpun dari imam-imam tersebut yang menulis kitab dan menyebutkan tentang kema'shuman dirinya dalam kitabnya.
Selain hal kema'shuman itu masih banyak lagi hal lain dari syiah yang bertentangan dengan akidah ahlu sunnah wal jamaah seperti nikah mut'ah dan pembayaran pajak untuk para imamnya. Seperti dijelaskan doktor Ahmad Annablusy, setelah diteliti lebih jauh mulai dari awal munculnya syiah hingga sekarang tujuan syiah tidak lepas dari harta dan uang. Sudah banyak cerita bahwa para pengikut syiah diwajibkan membayar semacam pajak kepada imamnya.
Sedangkan untuk masalah nikah mut'ah hanya orang-orang yang ingin mengikuti hawa nafsunya sajalah yang mau dan senang untuk mengikuti nikah mut'ah tersebut. Hati dan pikiran mereka sudah tertutup akan kebenaran dan terkuasai oleh hawa nafsu dan bisikan syetan sehingga menyangka yang haq itu bathil dan yang bathil itu haq.
Para ulama ahli sunnah sendiri sudah banyak bicara mengenai nikah mut'ah tersebut. Para ulama beritifaq mengenai diperbolehkannya nikah mut'ah tersebut pada masa nabi kemudian berbeda pendapat tentang penghapusannya menjadi dua golongan :
1. Jumhurul ulama berpendapat bahwa nikah mut'ah sudah tidak diperolehkan lagi derdasarkan hadis nabi :
عن علي أن الرسول صلى الله عليه و سلم نهى عن متعة النساء يوم خيبر و عن أكل لحوم الحمر الإنسية( أخرجه مالك في المواطاء في النكاح باب نكاح المتعة : 542)
و روي الربيع بن سبرة الجهني عن أبيه قال : غدوت على رسول الله فاذا هو قائم بين الركن و المقام مسندا ظهره إلى الكعبة يقول : يا أيها الناس إني أمرتكم بالإستمتاع من هذه النساء ألا و إن الله قد حرمها عليكم إلى يوم االقيامة فمن كان عنده منهن شيء فليخل سبيلها لا تأخذوا مما اتيتموهن شيئا
( أخرجه مسلم في النكاح رقم : 1406(20)
و روي عن عمر : لا أوتى برجل تزوج امرأة إلى أجل إلا رجمتهما بالحجارة
2. Ibnu Abbas berpendapat bahwa hukum mut'ah tidak terhapus, akan tetapi diriwayatkan lagi darinya bahwa dia mencabut pendapatnya tersebut ( tetapnya hukum mut'ah) dan diriwayatkan dengan sanad-sanad yang dloif.
Setelah mengetahui hukum mut'ah tidak ada lagi jalan untuk menghalalkan nikah mut'ah karena jumhur ulama sudah menyatakan keharaman nikah mut'ah tersebut. Dan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas itu tidak bisa dijadikan pedoman karena hanya dia sendirilah yang memperbolehkan nikah mut'ah.
Wallahu a'lam.
Sudah banyak kita mendengar cerita tentang syiah dan beberapa akidah mereka yang bertentangan dengan akidah ahlu sunnah wal jamaah. Bukan hal baru lagi kalau kita sering membaca buku yang isinya menentang syiah, menolak ajarannya dan menjawab dalil-dalil syiah yang bertentangan dengan akidah kaum sunni. Akan tetapi di sisi lain kita juga menemukan tulisan-tulisan yang menguatkan keberadaan kaum syiah. Yang memprihatinkan adalah sebagian dari tulisan itu ditulis oleh para pelajar indonesia yang sedang belajar di Iran khususnya pelajar yang berada di daerah Qom, Iran.
Di Indonesia sendiri akhir-akhir ini gencar terjadi pen-syiah-an, rata-rata mereka yang disyiahkan adalah orang-orang awam yang tidak tahu agama dan orang-orang ekonomi menengah kebawah. Banyak daerah di indonesia yang sudah menjadi tempat sasaran pensyiahan kaum syiah. Daerah Pemalang, Pasuruan dan Malang merupakan contoh kecil beberapa daerah yang sudah menjadi ladang pensyiahan. Di Pemalang orang-orang diiming-imingi dengan dana bantuan untuk renovasi masjid, sarana ibadah dan madrasah, di Pasuruan ada sebuah daerah yang di situ menghalalkan nikah mut'ah -kalau sudah menonton film kawin kontrak ya seperti itulah adanya daerah itu-. Di Malang lebih menggegerkan lagi, sekelompok kaum syiah mengadakan haul arba'in imam Husein di sebuah gereja. Di dalam gereja mereka bernyanyi sambil memukul-mukul tubuh mereka meniru gerakan orang-orang syiah waktu perayaan hari asyura' di Karbala Iran. Coba bayangkan apakah layak seorang imam seperti imam Husein haulnya diadakan di sebuah gereja, atau apakah karena mereka tidak mendapatkan tempat lagi untuk merayakan haul imam Husein selain di gereja karena umat islam tidak menerima keberadaan mereka?
Salah satu hal yang membuat syiah berbeda dengan kaum sunni adalah penisbatan label ma'shum kepada para imamnya –di samping banyak hal lain yang membedakan mereka dengan kaum sunni- mereka menyangka bahwa para imamnya adalah orang-orang yang ma'shum -tidak pernah tersentuh dosa- sama halnya dengan para nabi. Doktor Ahmad Annablusy seorang doktor dari Urdun (Jordania) yang sudah 2 tahun lebih meneliti tentang syiah ketika berkunjung ke Ahgaff University menyapaikan bahwa ada 5 hal yang menunjukkan kesalahan / kelemahan sangkaan syiah tersebut :
1. tidak ada satu orang pun dari ahli bait yang berkata seperti itu, jikapun ada pastinya mereka sudah terpengaruh paham syiah dan hanya sedikit sekali dari beribu-ribu ahli bait yang tersebar di seluruh dunia.
2. awal orang yang mengatakan hal tersebut ( kema'shuman imam) bukanlah berasal dari ahlu bait, akan tetapi orang-orang dari daerah Qom dan Kufah yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari Madinah yang merupakan kediaman para imam yang mereka anggap ma'shum tersebut.
3. tidak ada seorangpun dari para anak-anak imam tersebut yang berkata tentang kema'shuman orang tuanya.
4. begitu juga saudara-saudara para imam tersebut, tidak ada satu orangpun yang berkata tentang kema'shuman saudara-saudara mereka.
5. tidak ada satu orangpun dari imam-imam tersebut yang menulis kitab dan menyebutkan tentang kema'shuman dirinya dalam kitabnya.
Selain hal kema'shuman itu masih banyak lagi hal lain dari syiah yang bertentangan dengan akidah ahlu sunnah wal jamaah seperti nikah mut'ah dan pembayaran pajak untuk para imamnya. Seperti dijelaskan doktor Ahmad Annablusy, setelah diteliti lebih jauh mulai dari awal munculnya syiah hingga sekarang tujuan syiah tidak lepas dari harta dan uang. Sudah banyak cerita bahwa para pengikut syiah diwajibkan membayar semacam pajak kepada imamnya.
Sedangkan untuk masalah nikah mut'ah hanya orang-orang yang ingin mengikuti hawa nafsunya sajalah yang mau dan senang untuk mengikuti nikah mut'ah tersebut. Hati dan pikiran mereka sudah tertutup akan kebenaran dan terkuasai oleh hawa nafsu dan bisikan syetan sehingga menyangka yang haq itu bathil dan yang bathil itu haq.
Para ulama ahli sunnah sendiri sudah banyak bicara mengenai nikah mut'ah tersebut. Para ulama beritifaq mengenai diperbolehkannya nikah mut'ah tersebut pada masa nabi kemudian berbeda pendapat tentang penghapusannya menjadi dua golongan :
1. Jumhurul ulama berpendapat bahwa nikah mut'ah sudah tidak diperolehkan lagi derdasarkan hadis nabi :
عن علي أن الرسول صلى الله عليه و سلم نهى عن متعة النساء يوم خيبر و عن أكل لحوم الحمر الإنسية( أخرجه مالك في المواطاء في النكاح باب نكاح المتعة : 542)
و روي الربيع بن سبرة الجهني عن أبيه قال : غدوت على رسول الله فاذا هو قائم بين الركن و المقام مسندا ظهره إلى الكعبة يقول : يا أيها الناس إني أمرتكم بالإستمتاع من هذه النساء ألا و إن الله قد حرمها عليكم إلى يوم االقيامة فمن كان عنده منهن شيء فليخل سبيلها لا تأخذوا مما اتيتموهن شيئا
( أخرجه مسلم في النكاح رقم : 1406(20)
و روي عن عمر : لا أوتى برجل تزوج امرأة إلى أجل إلا رجمتهما بالحجارة
2. Ibnu Abbas berpendapat bahwa hukum mut'ah tidak terhapus, akan tetapi diriwayatkan lagi darinya bahwa dia mencabut pendapatnya tersebut ( tetapnya hukum mut'ah) dan diriwayatkan dengan sanad-sanad yang dloif.
Setelah mengetahui hukum mut'ah tidak ada lagi jalan untuk menghalalkan nikah mut'ah karena jumhur ulama sudah menyatakan keharaman nikah mut'ah tersebut. Dan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas itu tidak bisa dijadikan pedoman karena hanya dia sendirilah yang memperbolehkan nikah mut'ah.
Wallahu a'lam.
Minggu, 25 Januari 2009
Pendidikan yang mahal
By : LIGA
Sebuah fenomena yang kompleks dan menarik untuk disimak dan diperhatikan. Kemerdekaan negara Indonesia yang sudah 63 tahun lebih ternyata masih menyisakan banyak permasalahan. Kehidupan ekonomi yang masih terjadi kesenjangan yang mencolok antara si kaya dan si miskin, kehidupan berpolitik yang masih suka terjadi perebutan dan persaingan kedudukan dan jabatan diantara sesama tanpa mau berpikir lagi tentang nasib rakyatnya. Kehidupan sosial rakyat yang sudah sedemikian parah kerusakan akhlak dan moralnya. Kehidupan beragama yang sering terjadi hasut menghasut dan fitnah antara sesama dan beda agama, dan masih banyak lagi permasalahan yang sedang dihadapi negara kita tercinta ini di usianya yang sudah berkepala 6 ini.
Lalu bagaimana dan darimana kita harus menghadapi dan memecahkan permasalahan-permasalahan bangsa yang ruwet ini? Tidak akan mungkin berbagai macam masalah bangsa ini akan dapat diselesaikan dalam jangka waktu singkat hanya oleh seorang presiden saja dengan hanya dibantu para wakil-wakilnya. Presiden Soeharto saja membutuhkan waktu lebih dari satu periode untuk memulihkan kondisi perekonomian Indonesia pasca terjadinya gerakan 30 september 1965. Itu baru satu permasalahan saja yang baru bisa diatasi, lalu bagaimana dengan masalah-masalah yang lainnya? Pastinya dibutuhkan waktu yang lebih lama lagi.
Salah satu masalah yang masih saja menghantui masyarakat Indonesia adalah tentang pendidikan. Mutu pendidikan di Indonesia masih terus dipertanyakan, dengan mengeluarkan biaya yang besar untuk dapat mengenyam bangku sekolah apakah sudah sepadan hasilnya dengan mutu yang dikeluarkan?
Begitu ironis memang, padahal pendidikan merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan. Bahkan Nabi Muhammad pun telah bersabda dalam salah satu hadisnya "tholabu 'ilmin faridlotun 'ala kulli muslimin" yang artinya: mencari ilmu itu wajib bagi tiap muslim, laki-laki maupun perempuan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu sehingga semua muslim tanpa terkecuali diharuskan untuk belajar mencari ilmu. Bukan hanya nabi saja yang memerintahkan untuk mencari ilmu, Al-quran yang merupakan hukum tertinggi dalam islam dan merupakan kalam Allah SWT secara jelas telah menunjukkan bagaimana pentingnya ilmu itu, dan kedudukan orang berilmu itu disisi Allah maupun disisi manusia itu sendiri. Firman Allah SWT "fasaluu ahla al-dzikri in kuntum la ta'lamun" sudah menunjukkan bagaimana kedudukan seorang yang berilmu disisi sesama manusia. Dirinya akan menjadi rujukan setiap orang yang tidak mengetahui jawaban suatu permasalahan untuk ditanyai dan dijadikan pedoman dengan jawabannya tersebut. Selanjutnya firman Allah SWT "yarfa'illahulladziina amanu walladziina utul 'ilma darajaat" menunjukkan kedudukan manusia yang berilmu disisi Allah dan juga bersamaan disisi manusia itu sendiri, dia akan dimuliakan Allah dan diangkat derajatnya melebihi orang-orang lainnya di dunia maupun di akhirat. Banyak ayat-ayat al-quran yang menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan itu. Banyak kita jumpai dalam al-quran kalimat afala tubsirun, afala ta'lamun, afala ta'qilun, afala tadzakarun yang menunjukkan sangat pentingnya pengetahuan itu.
Akan tetapi, meskipun Al-quran dan al-hadis sudah berulang-ulang kali mengingatkan betapa pentingnya ilmu, dan juga berulang kali menyuruh untuk mencari ilmu, kenapa masih banyak saja orang yang tidak berpengetahuan di dunia ini?. Mungkin salah satu faktor ketidakberilmuan mereka adalah masalah biaya dan ini sudah menjadi cerita lama dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Bagi yang sudah membaca buku laskar pelangi mungkin tahu cerita seorang Lintang yang begitu jenius harus menyerah pada nasib untuk tidak meneruskan belajarnya ke jenjang yang lebih tinggi hanya karena faktor biaya saja, dan banyak sekali cerita-cerita seperti itu di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Saya teringat cerita gus Sholah ketika beliau berkunjung ke Tarim beberapa waktu yang lalu. Diceritakan beliau mempunyai seeorang cucu yang masih kecil, sang cucu tersebut ketika masuk SD ternyata tidak cocok dengan lingkungan sekolahnya, kemudian diapun berpindah ke sekolah lainnya dan merasa tidak cocok lagi, kemudian berpindah lagi ke lain sekolah. Dan barulah setelah kepindahannya yang ketiga ini dia merasa cocok dengan lingkungan sekolahnya. Padahal sang orang tua sudah mengeluarkan uang banyak untuk membiayai dia masuk ke sekolah tersebut, maklumlah sekolah yang dimasuki bertarif tinggi, hanya untuk golongan menengah ke atas saja. Lalu apa yang membuat sang cucu tidak betah di dua sekolah sebelumnya? Padahal kalau dipikir-pikir dengan biaya yang begitu mahal dan fasilitas yang lengkap pastinya akan membuat sang anak betah dan kerasan untuk belajar di sekolah tersebut. Apa ada yang salah dalam sekolah tersebut?
Satu cerita lagi yang saya dapat dari beliau, waktu UAN (Ujian Akhir Nasional) di sebuah SMA di salah satu propinsi di Sumatra anggota kepolisian berhasil menggrebek sekelompok guru yang sedang bekerja membenahi jawaban murid-muridnya. Lalu siapa yang salah dalam kasus ini? Dapatkah sang guru disalahkan karena ketidakbecusannya mengajar dan mendidik murid-muridnya? Atau sang muridlah yang harus disalahkan karena tidak mau belajar? Atau mungkin dua-duanya yang disalahkan? Kalau kita simak cerita gus Sholah di atas, tentunya jawaban yang di dapat adalah belum sepadannya biaya pendidikan – yang tentunya begitu besar- dengan mutu pendidikan yang dikeluarkan.
Satu lagi cerita yang menunjukkan betapa mahalnya pendidikan itu bagi masyarakat Indonesia adalah ketika ada salah seorang teman yang bertanya kepada Dubes RI untuk negara Yaman disaat kunjungan beliau ke Tarim awal musim dingin beberapa bulan lalu. Dia bertanya apakah ada beasiswa dari pemerintah ( DEPAG ) untuk para pelajar yang belajar di Yaman seperti yang diberikan DEPAG kepada para pelajar di Mesir, sehingga dengan adanya beasiswa dari pemerintah tersebut diharapkan akan dapat meringankan beban biaya yang ditanggung para pelajar?. Dengan kelihatan agak setengah hati pak Dubes menjawab bahwa hal itu akan diusahakannya meskipun sepertinya beliau juga tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Hal tersebut ditanyakan karena memang faktor terbesar sedikitnya pelajar yang belajar di Yaman khususnya Tarim adalah faktor biaya. Padahal Tarim merupakan salah satu tempat untuk mencetak para sarjana yang beraliran ahlu sunnah wal jamaah, sedangkan untuk pengiriman mahasiswa ke Iran misalnya, beasiswa selalu ada dan kesempatan terbuka lebar, padahal Iran jelas-jelas mencetak kader yang beraliran syiah.
Begitulah pendidikan di Indonesia, mutu pendidikan yang belum dapat dipertanggung jawabkan akan tetapi biaya pendidikannya mahalnya sudah selangit. Kapankah terdapat pendidikan murah di Indonesia? Wallahu a'lam.
By : LIGA
Sebuah fenomena yang kompleks dan menarik untuk disimak dan diperhatikan. Kemerdekaan negara Indonesia yang sudah 63 tahun lebih ternyata masih menyisakan banyak permasalahan. Kehidupan ekonomi yang masih terjadi kesenjangan yang mencolok antara si kaya dan si miskin, kehidupan berpolitik yang masih suka terjadi perebutan dan persaingan kedudukan dan jabatan diantara sesama tanpa mau berpikir lagi tentang nasib rakyatnya. Kehidupan sosial rakyat yang sudah sedemikian parah kerusakan akhlak dan moralnya. Kehidupan beragama yang sering terjadi hasut menghasut dan fitnah antara sesama dan beda agama, dan masih banyak lagi permasalahan yang sedang dihadapi negara kita tercinta ini di usianya yang sudah berkepala 6 ini.
Lalu bagaimana dan darimana kita harus menghadapi dan memecahkan permasalahan-permasalahan bangsa yang ruwet ini? Tidak akan mungkin berbagai macam masalah bangsa ini akan dapat diselesaikan dalam jangka waktu singkat hanya oleh seorang presiden saja dengan hanya dibantu para wakil-wakilnya. Presiden Soeharto saja membutuhkan waktu lebih dari satu periode untuk memulihkan kondisi perekonomian Indonesia pasca terjadinya gerakan 30 september 1965. Itu baru satu permasalahan saja yang baru bisa diatasi, lalu bagaimana dengan masalah-masalah yang lainnya? Pastinya dibutuhkan waktu yang lebih lama lagi.
Salah satu masalah yang masih saja menghantui masyarakat Indonesia adalah tentang pendidikan. Mutu pendidikan di Indonesia masih terus dipertanyakan, dengan mengeluarkan biaya yang besar untuk dapat mengenyam bangku sekolah apakah sudah sepadan hasilnya dengan mutu yang dikeluarkan?
Begitu ironis memang, padahal pendidikan merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan. Bahkan Nabi Muhammad pun telah bersabda dalam salah satu hadisnya "tholabu 'ilmin faridlotun 'ala kulli muslimin" yang artinya: mencari ilmu itu wajib bagi tiap muslim, laki-laki maupun perempuan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu sehingga semua muslim tanpa terkecuali diharuskan untuk belajar mencari ilmu. Bukan hanya nabi saja yang memerintahkan untuk mencari ilmu, Al-quran yang merupakan hukum tertinggi dalam islam dan merupakan kalam Allah SWT secara jelas telah menunjukkan bagaimana pentingnya ilmu itu, dan kedudukan orang berilmu itu disisi Allah maupun disisi manusia itu sendiri. Firman Allah SWT "fasaluu ahla al-dzikri in kuntum la ta'lamun" sudah menunjukkan bagaimana kedudukan seorang yang berilmu disisi sesama manusia. Dirinya akan menjadi rujukan setiap orang yang tidak mengetahui jawaban suatu permasalahan untuk ditanyai dan dijadikan pedoman dengan jawabannya tersebut. Selanjutnya firman Allah SWT "yarfa'illahulladziina amanu walladziina utul 'ilma darajaat" menunjukkan kedudukan manusia yang berilmu disisi Allah dan juga bersamaan disisi manusia itu sendiri, dia akan dimuliakan Allah dan diangkat derajatnya melebihi orang-orang lainnya di dunia maupun di akhirat. Banyak ayat-ayat al-quran yang menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan itu. Banyak kita jumpai dalam al-quran kalimat afala tubsirun, afala ta'lamun, afala ta'qilun, afala tadzakarun yang menunjukkan sangat pentingnya pengetahuan itu.
Akan tetapi, meskipun Al-quran dan al-hadis sudah berulang-ulang kali mengingatkan betapa pentingnya ilmu, dan juga berulang kali menyuruh untuk mencari ilmu, kenapa masih banyak saja orang yang tidak berpengetahuan di dunia ini?. Mungkin salah satu faktor ketidakberilmuan mereka adalah masalah biaya dan ini sudah menjadi cerita lama dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Bagi yang sudah membaca buku laskar pelangi mungkin tahu cerita seorang Lintang yang begitu jenius harus menyerah pada nasib untuk tidak meneruskan belajarnya ke jenjang yang lebih tinggi hanya karena faktor biaya saja, dan banyak sekali cerita-cerita seperti itu di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Saya teringat cerita gus Sholah ketika beliau berkunjung ke Tarim beberapa waktu yang lalu. Diceritakan beliau mempunyai seeorang cucu yang masih kecil, sang cucu tersebut ketika masuk SD ternyata tidak cocok dengan lingkungan sekolahnya, kemudian diapun berpindah ke sekolah lainnya dan merasa tidak cocok lagi, kemudian berpindah lagi ke lain sekolah. Dan barulah setelah kepindahannya yang ketiga ini dia merasa cocok dengan lingkungan sekolahnya. Padahal sang orang tua sudah mengeluarkan uang banyak untuk membiayai dia masuk ke sekolah tersebut, maklumlah sekolah yang dimasuki bertarif tinggi, hanya untuk golongan menengah ke atas saja. Lalu apa yang membuat sang cucu tidak betah di dua sekolah sebelumnya? Padahal kalau dipikir-pikir dengan biaya yang begitu mahal dan fasilitas yang lengkap pastinya akan membuat sang anak betah dan kerasan untuk belajar di sekolah tersebut. Apa ada yang salah dalam sekolah tersebut?
Satu cerita lagi yang saya dapat dari beliau, waktu UAN (Ujian Akhir Nasional) di sebuah SMA di salah satu propinsi di Sumatra anggota kepolisian berhasil menggrebek sekelompok guru yang sedang bekerja membenahi jawaban murid-muridnya. Lalu siapa yang salah dalam kasus ini? Dapatkah sang guru disalahkan karena ketidakbecusannya mengajar dan mendidik murid-muridnya? Atau sang muridlah yang harus disalahkan karena tidak mau belajar? Atau mungkin dua-duanya yang disalahkan? Kalau kita simak cerita gus Sholah di atas, tentunya jawaban yang di dapat adalah belum sepadannya biaya pendidikan – yang tentunya begitu besar- dengan mutu pendidikan yang dikeluarkan.
Satu lagi cerita yang menunjukkan betapa mahalnya pendidikan itu bagi masyarakat Indonesia adalah ketika ada salah seorang teman yang bertanya kepada Dubes RI untuk negara Yaman disaat kunjungan beliau ke Tarim awal musim dingin beberapa bulan lalu. Dia bertanya apakah ada beasiswa dari pemerintah ( DEPAG ) untuk para pelajar yang belajar di Yaman seperti yang diberikan DEPAG kepada para pelajar di Mesir, sehingga dengan adanya beasiswa dari pemerintah tersebut diharapkan akan dapat meringankan beban biaya yang ditanggung para pelajar?. Dengan kelihatan agak setengah hati pak Dubes menjawab bahwa hal itu akan diusahakannya meskipun sepertinya beliau juga tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Hal tersebut ditanyakan karena memang faktor terbesar sedikitnya pelajar yang belajar di Yaman khususnya Tarim adalah faktor biaya. Padahal Tarim merupakan salah satu tempat untuk mencetak para sarjana yang beraliran ahlu sunnah wal jamaah, sedangkan untuk pengiriman mahasiswa ke Iran misalnya, beasiswa selalu ada dan kesempatan terbuka lebar, padahal Iran jelas-jelas mencetak kader yang beraliran syiah.
Begitulah pendidikan di Indonesia, mutu pendidikan yang belum dapat dipertanggung jawabkan akan tetapi biaya pendidikannya mahalnya sudah selangit. Kapankah terdapat pendidikan murah di Indonesia? Wallahu a'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)