Sekilas tentang Syiah
Sudah banyak kita mendengar cerita tentang syiah dan beberapa akidah mereka yang bertentangan dengan akidah ahlu sunnah wal jamaah. Bukan hal baru lagi kalau kita sering membaca buku yang isinya menentang syiah, menolak ajarannya dan menjawab dalil-dalil syiah yang bertentangan dengan akidah kaum sunni. Akan tetapi di sisi lain kita juga menemukan tulisan-tulisan yang menguatkan keberadaan kaum syiah. Yang memprihatinkan adalah sebagian dari tulisan itu ditulis oleh para pelajar indonesia yang sedang belajar di Iran khususnya pelajar yang berada di daerah Qom, Iran.
Di Indonesia sendiri akhir-akhir ini gencar terjadi pen-syiah-an, rata-rata mereka yang disyiahkan adalah orang-orang awam yang tidak tahu agama dan orang-orang ekonomi menengah kebawah. Banyak daerah di indonesia yang sudah menjadi tempat sasaran pensyiahan kaum syiah. Daerah Pemalang, Pasuruan dan Malang merupakan contoh kecil beberapa daerah yang sudah menjadi ladang pensyiahan. Di Pemalang orang-orang diiming-imingi dengan dana bantuan untuk renovasi masjid, sarana ibadah dan madrasah, di Pasuruan ada sebuah daerah yang di situ menghalalkan nikah mut'ah -kalau sudah menonton film kawin kontrak ya seperti itulah adanya daerah itu-. Di Malang lebih menggegerkan lagi, sekelompok kaum syiah mengadakan haul arba'in imam Husein di sebuah gereja. Di dalam gereja mereka bernyanyi sambil memukul-mukul tubuh mereka meniru gerakan orang-orang syiah waktu perayaan hari asyura' di Karbala Iran. Coba bayangkan apakah layak seorang imam seperti imam Husein haulnya diadakan di sebuah gereja, atau apakah karena mereka tidak mendapatkan tempat lagi untuk merayakan haul imam Husein selain di gereja karena umat islam tidak menerima keberadaan mereka?
Salah satu hal yang membuat syiah berbeda dengan kaum sunni adalah penisbatan label ma'shum kepada para imamnya –di samping banyak hal lain yang membedakan mereka dengan kaum sunni- mereka menyangka bahwa para imamnya adalah orang-orang yang ma'shum -tidak pernah tersentuh dosa- sama halnya dengan para nabi. Doktor Ahmad Annablusy seorang doktor dari Urdun (Jordania) yang sudah 2 tahun lebih meneliti tentang syiah ketika berkunjung ke Ahgaff University menyapaikan bahwa ada 5 hal yang menunjukkan kesalahan / kelemahan sangkaan syiah tersebut :
1. tidak ada satu orang pun dari ahli bait yang berkata seperti itu, jikapun ada pastinya mereka sudah terpengaruh paham syiah dan hanya sedikit sekali dari beribu-ribu ahli bait yang tersebar di seluruh dunia.
2. awal orang yang mengatakan hal tersebut ( kema'shuman imam) bukanlah berasal dari ahlu bait, akan tetapi orang-orang dari daerah Qom dan Kufah yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari Madinah yang merupakan kediaman para imam yang mereka anggap ma'shum tersebut.
3. tidak ada seorangpun dari para anak-anak imam tersebut yang berkata tentang kema'shuman orang tuanya.
4. begitu juga saudara-saudara para imam tersebut, tidak ada satu orangpun yang berkata tentang kema'shuman saudara-saudara mereka.
5. tidak ada satu orangpun dari imam-imam tersebut yang menulis kitab dan menyebutkan tentang kema'shuman dirinya dalam kitabnya.
Selain hal kema'shuman itu masih banyak lagi hal lain dari syiah yang bertentangan dengan akidah ahlu sunnah wal jamaah seperti nikah mut'ah dan pembayaran pajak untuk para imamnya. Seperti dijelaskan doktor Ahmad Annablusy, setelah diteliti lebih jauh mulai dari awal munculnya syiah hingga sekarang tujuan syiah tidak lepas dari harta dan uang. Sudah banyak cerita bahwa para pengikut syiah diwajibkan membayar semacam pajak kepada imamnya.
Sedangkan untuk masalah nikah mut'ah hanya orang-orang yang ingin mengikuti hawa nafsunya sajalah yang mau dan senang untuk mengikuti nikah mut'ah tersebut. Hati dan pikiran mereka sudah tertutup akan kebenaran dan terkuasai oleh hawa nafsu dan bisikan syetan sehingga menyangka yang haq itu bathil dan yang bathil itu haq.
Para ulama ahli sunnah sendiri sudah banyak bicara mengenai nikah mut'ah tersebut. Para ulama beritifaq mengenai diperbolehkannya nikah mut'ah tersebut pada masa nabi kemudian berbeda pendapat tentang penghapusannya menjadi dua golongan :
1. Jumhurul ulama berpendapat bahwa nikah mut'ah sudah tidak diperolehkan lagi derdasarkan hadis nabi :
عن علي أن الرسول صلى الله عليه و سلم نهى عن متعة النساء يوم خيبر و عن أكل لحوم الحمر الإنسية( أخرجه مالك في المواطاء في النكاح باب نكاح المتعة : 542)
و روي الربيع بن سبرة الجهني عن أبيه قال : غدوت على رسول الله فاذا هو قائم بين الركن و المقام مسندا ظهره إلى الكعبة يقول : يا أيها الناس إني أمرتكم بالإستمتاع من هذه النساء ألا و إن الله قد حرمها عليكم إلى يوم االقيامة فمن كان عنده منهن شيء فليخل سبيلها لا تأخذوا مما اتيتموهن شيئا
( أخرجه مسلم في النكاح رقم : 1406(20)
و روي عن عمر : لا أوتى برجل تزوج امرأة إلى أجل إلا رجمتهما بالحجارة
2. Ibnu Abbas berpendapat bahwa hukum mut'ah tidak terhapus, akan tetapi diriwayatkan lagi darinya bahwa dia mencabut pendapatnya tersebut ( tetapnya hukum mut'ah) dan diriwayatkan dengan sanad-sanad yang dloif.
Setelah mengetahui hukum mut'ah tidak ada lagi jalan untuk menghalalkan nikah mut'ah karena jumhur ulama sudah menyatakan keharaman nikah mut'ah tersebut. Dan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas itu tidak bisa dijadikan pedoman karena hanya dia sendirilah yang memperbolehkan nikah mut'ah.
Wallahu a'lam.
Selasa, 27 Januari 2009
Minggu, 25 Januari 2009
Pendidikan yang mahal
By : LIGA
Sebuah fenomena yang kompleks dan menarik untuk disimak dan diperhatikan. Kemerdekaan negara Indonesia yang sudah 63 tahun lebih ternyata masih menyisakan banyak permasalahan. Kehidupan ekonomi yang masih terjadi kesenjangan yang mencolok antara si kaya dan si miskin, kehidupan berpolitik yang masih suka terjadi perebutan dan persaingan kedudukan dan jabatan diantara sesama tanpa mau berpikir lagi tentang nasib rakyatnya. Kehidupan sosial rakyat yang sudah sedemikian parah kerusakan akhlak dan moralnya. Kehidupan beragama yang sering terjadi hasut menghasut dan fitnah antara sesama dan beda agama, dan masih banyak lagi permasalahan yang sedang dihadapi negara kita tercinta ini di usianya yang sudah berkepala 6 ini.
Lalu bagaimana dan darimana kita harus menghadapi dan memecahkan permasalahan-permasalahan bangsa yang ruwet ini? Tidak akan mungkin berbagai macam masalah bangsa ini akan dapat diselesaikan dalam jangka waktu singkat hanya oleh seorang presiden saja dengan hanya dibantu para wakil-wakilnya. Presiden Soeharto saja membutuhkan waktu lebih dari satu periode untuk memulihkan kondisi perekonomian Indonesia pasca terjadinya gerakan 30 september 1965. Itu baru satu permasalahan saja yang baru bisa diatasi, lalu bagaimana dengan masalah-masalah yang lainnya? Pastinya dibutuhkan waktu yang lebih lama lagi.
Salah satu masalah yang masih saja menghantui masyarakat Indonesia adalah tentang pendidikan. Mutu pendidikan di Indonesia masih terus dipertanyakan, dengan mengeluarkan biaya yang besar untuk dapat mengenyam bangku sekolah apakah sudah sepadan hasilnya dengan mutu yang dikeluarkan?
Begitu ironis memang, padahal pendidikan merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan. Bahkan Nabi Muhammad pun telah bersabda dalam salah satu hadisnya "tholabu 'ilmin faridlotun 'ala kulli muslimin" yang artinya: mencari ilmu itu wajib bagi tiap muslim, laki-laki maupun perempuan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu sehingga semua muslim tanpa terkecuali diharuskan untuk belajar mencari ilmu. Bukan hanya nabi saja yang memerintahkan untuk mencari ilmu, Al-quran yang merupakan hukum tertinggi dalam islam dan merupakan kalam Allah SWT secara jelas telah menunjukkan bagaimana pentingnya ilmu itu, dan kedudukan orang berilmu itu disisi Allah maupun disisi manusia itu sendiri. Firman Allah SWT "fasaluu ahla al-dzikri in kuntum la ta'lamun" sudah menunjukkan bagaimana kedudukan seorang yang berilmu disisi sesama manusia. Dirinya akan menjadi rujukan setiap orang yang tidak mengetahui jawaban suatu permasalahan untuk ditanyai dan dijadikan pedoman dengan jawabannya tersebut. Selanjutnya firman Allah SWT "yarfa'illahulladziina amanu walladziina utul 'ilma darajaat" menunjukkan kedudukan manusia yang berilmu disisi Allah dan juga bersamaan disisi manusia itu sendiri, dia akan dimuliakan Allah dan diangkat derajatnya melebihi orang-orang lainnya di dunia maupun di akhirat. Banyak ayat-ayat al-quran yang menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan itu. Banyak kita jumpai dalam al-quran kalimat afala tubsirun, afala ta'lamun, afala ta'qilun, afala tadzakarun yang menunjukkan sangat pentingnya pengetahuan itu.
Akan tetapi, meskipun Al-quran dan al-hadis sudah berulang-ulang kali mengingatkan betapa pentingnya ilmu, dan juga berulang kali menyuruh untuk mencari ilmu, kenapa masih banyak saja orang yang tidak berpengetahuan di dunia ini?. Mungkin salah satu faktor ketidakberilmuan mereka adalah masalah biaya dan ini sudah menjadi cerita lama dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Bagi yang sudah membaca buku laskar pelangi mungkin tahu cerita seorang Lintang yang begitu jenius harus menyerah pada nasib untuk tidak meneruskan belajarnya ke jenjang yang lebih tinggi hanya karena faktor biaya saja, dan banyak sekali cerita-cerita seperti itu di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Saya teringat cerita gus Sholah ketika beliau berkunjung ke Tarim beberapa waktu yang lalu. Diceritakan beliau mempunyai seeorang cucu yang masih kecil, sang cucu tersebut ketika masuk SD ternyata tidak cocok dengan lingkungan sekolahnya, kemudian diapun berpindah ke sekolah lainnya dan merasa tidak cocok lagi, kemudian berpindah lagi ke lain sekolah. Dan barulah setelah kepindahannya yang ketiga ini dia merasa cocok dengan lingkungan sekolahnya. Padahal sang orang tua sudah mengeluarkan uang banyak untuk membiayai dia masuk ke sekolah tersebut, maklumlah sekolah yang dimasuki bertarif tinggi, hanya untuk golongan menengah ke atas saja. Lalu apa yang membuat sang cucu tidak betah di dua sekolah sebelumnya? Padahal kalau dipikir-pikir dengan biaya yang begitu mahal dan fasilitas yang lengkap pastinya akan membuat sang anak betah dan kerasan untuk belajar di sekolah tersebut. Apa ada yang salah dalam sekolah tersebut?
Satu cerita lagi yang saya dapat dari beliau, waktu UAN (Ujian Akhir Nasional) di sebuah SMA di salah satu propinsi di Sumatra anggota kepolisian berhasil menggrebek sekelompok guru yang sedang bekerja membenahi jawaban murid-muridnya. Lalu siapa yang salah dalam kasus ini? Dapatkah sang guru disalahkan karena ketidakbecusannya mengajar dan mendidik murid-muridnya? Atau sang muridlah yang harus disalahkan karena tidak mau belajar? Atau mungkin dua-duanya yang disalahkan? Kalau kita simak cerita gus Sholah di atas, tentunya jawaban yang di dapat adalah belum sepadannya biaya pendidikan – yang tentunya begitu besar- dengan mutu pendidikan yang dikeluarkan.
Satu lagi cerita yang menunjukkan betapa mahalnya pendidikan itu bagi masyarakat Indonesia adalah ketika ada salah seorang teman yang bertanya kepada Dubes RI untuk negara Yaman disaat kunjungan beliau ke Tarim awal musim dingin beberapa bulan lalu. Dia bertanya apakah ada beasiswa dari pemerintah ( DEPAG ) untuk para pelajar yang belajar di Yaman seperti yang diberikan DEPAG kepada para pelajar di Mesir, sehingga dengan adanya beasiswa dari pemerintah tersebut diharapkan akan dapat meringankan beban biaya yang ditanggung para pelajar?. Dengan kelihatan agak setengah hati pak Dubes menjawab bahwa hal itu akan diusahakannya meskipun sepertinya beliau juga tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Hal tersebut ditanyakan karena memang faktor terbesar sedikitnya pelajar yang belajar di Yaman khususnya Tarim adalah faktor biaya. Padahal Tarim merupakan salah satu tempat untuk mencetak para sarjana yang beraliran ahlu sunnah wal jamaah, sedangkan untuk pengiriman mahasiswa ke Iran misalnya, beasiswa selalu ada dan kesempatan terbuka lebar, padahal Iran jelas-jelas mencetak kader yang beraliran syiah.
Begitulah pendidikan di Indonesia, mutu pendidikan yang belum dapat dipertanggung jawabkan akan tetapi biaya pendidikannya mahalnya sudah selangit. Kapankah terdapat pendidikan murah di Indonesia? Wallahu a'lam.
By : LIGA
Sebuah fenomena yang kompleks dan menarik untuk disimak dan diperhatikan. Kemerdekaan negara Indonesia yang sudah 63 tahun lebih ternyata masih menyisakan banyak permasalahan. Kehidupan ekonomi yang masih terjadi kesenjangan yang mencolok antara si kaya dan si miskin, kehidupan berpolitik yang masih suka terjadi perebutan dan persaingan kedudukan dan jabatan diantara sesama tanpa mau berpikir lagi tentang nasib rakyatnya. Kehidupan sosial rakyat yang sudah sedemikian parah kerusakan akhlak dan moralnya. Kehidupan beragama yang sering terjadi hasut menghasut dan fitnah antara sesama dan beda agama, dan masih banyak lagi permasalahan yang sedang dihadapi negara kita tercinta ini di usianya yang sudah berkepala 6 ini.
Lalu bagaimana dan darimana kita harus menghadapi dan memecahkan permasalahan-permasalahan bangsa yang ruwet ini? Tidak akan mungkin berbagai macam masalah bangsa ini akan dapat diselesaikan dalam jangka waktu singkat hanya oleh seorang presiden saja dengan hanya dibantu para wakil-wakilnya. Presiden Soeharto saja membutuhkan waktu lebih dari satu periode untuk memulihkan kondisi perekonomian Indonesia pasca terjadinya gerakan 30 september 1965. Itu baru satu permasalahan saja yang baru bisa diatasi, lalu bagaimana dengan masalah-masalah yang lainnya? Pastinya dibutuhkan waktu yang lebih lama lagi.
Salah satu masalah yang masih saja menghantui masyarakat Indonesia adalah tentang pendidikan. Mutu pendidikan di Indonesia masih terus dipertanyakan, dengan mengeluarkan biaya yang besar untuk dapat mengenyam bangku sekolah apakah sudah sepadan hasilnya dengan mutu yang dikeluarkan?
Begitu ironis memang, padahal pendidikan merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan. Bahkan Nabi Muhammad pun telah bersabda dalam salah satu hadisnya "tholabu 'ilmin faridlotun 'ala kulli muslimin" yang artinya: mencari ilmu itu wajib bagi tiap muslim, laki-laki maupun perempuan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu sehingga semua muslim tanpa terkecuali diharuskan untuk belajar mencari ilmu. Bukan hanya nabi saja yang memerintahkan untuk mencari ilmu, Al-quran yang merupakan hukum tertinggi dalam islam dan merupakan kalam Allah SWT secara jelas telah menunjukkan bagaimana pentingnya ilmu itu, dan kedudukan orang berilmu itu disisi Allah maupun disisi manusia itu sendiri. Firman Allah SWT "fasaluu ahla al-dzikri in kuntum la ta'lamun" sudah menunjukkan bagaimana kedudukan seorang yang berilmu disisi sesama manusia. Dirinya akan menjadi rujukan setiap orang yang tidak mengetahui jawaban suatu permasalahan untuk ditanyai dan dijadikan pedoman dengan jawabannya tersebut. Selanjutnya firman Allah SWT "yarfa'illahulladziina amanu walladziina utul 'ilma darajaat" menunjukkan kedudukan manusia yang berilmu disisi Allah dan juga bersamaan disisi manusia itu sendiri, dia akan dimuliakan Allah dan diangkat derajatnya melebihi orang-orang lainnya di dunia maupun di akhirat. Banyak ayat-ayat al-quran yang menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan itu. Banyak kita jumpai dalam al-quran kalimat afala tubsirun, afala ta'lamun, afala ta'qilun, afala tadzakarun yang menunjukkan sangat pentingnya pengetahuan itu.
Akan tetapi, meskipun Al-quran dan al-hadis sudah berulang-ulang kali mengingatkan betapa pentingnya ilmu, dan juga berulang kali menyuruh untuk mencari ilmu, kenapa masih banyak saja orang yang tidak berpengetahuan di dunia ini?. Mungkin salah satu faktor ketidakberilmuan mereka adalah masalah biaya dan ini sudah menjadi cerita lama dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Bagi yang sudah membaca buku laskar pelangi mungkin tahu cerita seorang Lintang yang begitu jenius harus menyerah pada nasib untuk tidak meneruskan belajarnya ke jenjang yang lebih tinggi hanya karena faktor biaya saja, dan banyak sekali cerita-cerita seperti itu di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Saya teringat cerita gus Sholah ketika beliau berkunjung ke Tarim beberapa waktu yang lalu. Diceritakan beliau mempunyai seeorang cucu yang masih kecil, sang cucu tersebut ketika masuk SD ternyata tidak cocok dengan lingkungan sekolahnya, kemudian diapun berpindah ke sekolah lainnya dan merasa tidak cocok lagi, kemudian berpindah lagi ke lain sekolah. Dan barulah setelah kepindahannya yang ketiga ini dia merasa cocok dengan lingkungan sekolahnya. Padahal sang orang tua sudah mengeluarkan uang banyak untuk membiayai dia masuk ke sekolah tersebut, maklumlah sekolah yang dimasuki bertarif tinggi, hanya untuk golongan menengah ke atas saja. Lalu apa yang membuat sang cucu tidak betah di dua sekolah sebelumnya? Padahal kalau dipikir-pikir dengan biaya yang begitu mahal dan fasilitas yang lengkap pastinya akan membuat sang anak betah dan kerasan untuk belajar di sekolah tersebut. Apa ada yang salah dalam sekolah tersebut?
Satu cerita lagi yang saya dapat dari beliau, waktu UAN (Ujian Akhir Nasional) di sebuah SMA di salah satu propinsi di Sumatra anggota kepolisian berhasil menggrebek sekelompok guru yang sedang bekerja membenahi jawaban murid-muridnya. Lalu siapa yang salah dalam kasus ini? Dapatkah sang guru disalahkan karena ketidakbecusannya mengajar dan mendidik murid-muridnya? Atau sang muridlah yang harus disalahkan karena tidak mau belajar? Atau mungkin dua-duanya yang disalahkan? Kalau kita simak cerita gus Sholah di atas, tentunya jawaban yang di dapat adalah belum sepadannya biaya pendidikan – yang tentunya begitu besar- dengan mutu pendidikan yang dikeluarkan.
Satu lagi cerita yang menunjukkan betapa mahalnya pendidikan itu bagi masyarakat Indonesia adalah ketika ada salah seorang teman yang bertanya kepada Dubes RI untuk negara Yaman disaat kunjungan beliau ke Tarim awal musim dingin beberapa bulan lalu. Dia bertanya apakah ada beasiswa dari pemerintah ( DEPAG ) untuk para pelajar yang belajar di Yaman seperti yang diberikan DEPAG kepada para pelajar di Mesir, sehingga dengan adanya beasiswa dari pemerintah tersebut diharapkan akan dapat meringankan beban biaya yang ditanggung para pelajar?. Dengan kelihatan agak setengah hati pak Dubes menjawab bahwa hal itu akan diusahakannya meskipun sepertinya beliau juga tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Hal tersebut ditanyakan karena memang faktor terbesar sedikitnya pelajar yang belajar di Yaman khususnya Tarim adalah faktor biaya. Padahal Tarim merupakan salah satu tempat untuk mencetak para sarjana yang beraliran ahlu sunnah wal jamaah, sedangkan untuk pengiriman mahasiswa ke Iran misalnya, beasiswa selalu ada dan kesempatan terbuka lebar, padahal Iran jelas-jelas mencetak kader yang beraliran syiah.
Begitulah pendidikan di Indonesia, mutu pendidikan yang belum dapat dipertanggung jawabkan akan tetapi biaya pendidikannya mahalnya sudah selangit. Kapankah terdapat pendidikan murah di Indonesia? Wallahu a'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)