Minggu, 25 Januari 2009

Pendidikan yang mahal

By : LIGA

Sebuah fenomena yang kompleks dan menarik untuk disimak dan diperhatikan. Kemerdekaan negara Indonesia yang sudah 63 tahun lebih ternyata masih menyisakan banyak permasalahan. Kehidupan ekonomi yang masih terjadi kesenjangan yang mencolok antara si kaya dan si miskin, kehidupan berpolitik yang masih suka terjadi perebutan dan persaingan kedudukan dan jabatan diantara sesama tanpa mau berpikir lagi tentang nasib rakyatnya. Kehidupan sosial rakyat yang sudah sedemikian parah kerusakan akhlak dan moralnya. Kehidupan beragama yang sering terjadi hasut menghasut dan fitnah antara sesama dan beda agama, dan masih banyak lagi permasalahan yang sedang dihadapi negara kita tercinta ini di usianya yang sudah berkepala 6 ini.
Lalu bagaimana dan darimana kita harus menghadapi dan memecahkan permasalahan-permasalahan bangsa yang ruwet ini? Tidak akan mungkin berbagai macam masalah bangsa ini akan dapat diselesaikan dalam jangka waktu singkat hanya oleh seorang presiden saja dengan hanya dibantu para wakil-wakilnya. Presiden Soeharto saja membutuhkan waktu lebih dari satu periode untuk memulihkan kondisi perekonomian Indonesia pasca terjadinya gerakan 30 september 1965. Itu baru satu permasalahan saja yang baru bisa diatasi, lalu bagaimana dengan masalah-masalah yang lainnya? Pastinya dibutuhkan waktu yang lebih lama lagi.
Salah satu masalah yang masih saja menghantui masyarakat Indonesia adalah tentang pendidikan. Mutu pendidikan di Indonesia masih terus dipertanyakan, dengan mengeluarkan biaya yang besar untuk dapat mengenyam bangku sekolah apakah sudah sepadan hasilnya dengan mutu yang dikeluarkan?
Begitu ironis memang, padahal pendidikan merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan. Bahkan Nabi Muhammad pun telah bersabda dalam salah satu hadisnya "tholabu 'ilmin faridlotun 'ala kulli muslimin" yang artinya: mencari ilmu itu wajib bagi tiap muslim, laki-laki maupun perempuan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu sehingga semua muslim tanpa terkecuali diharuskan untuk belajar mencari ilmu. Bukan hanya nabi saja yang memerintahkan untuk mencari ilmu, Al-quran yang merupakan hukum tertinggi dalam islam dan merupakan kalam Allah SWT secara jelas telah menunjukkan bagaimana pentingnya ilmu itu, dan kedudukan orang berilmu itu disisi Allah maupun disisi manusia itu sendiri. Firman Allah SWT "fasaluu ahla al-dzikri in kuntum la ta'lamun" sudah menunjukkan bagaimana kedudukan seorang yang berilmu disisi sesama manusia. Dirinya akan menjadi rujukan setiap orang yang tidak mengetahui jawaban suatu permasalahan untuk ditanyai dan dijadikan pedoman dengan jawabannya tersebut. Selanjutnya firman Allah SWT "yarfa'illahulladziina amanu walladziina utul 'ilma darajaat" menunjukkan kedudukan manusia yang berilmu disisi Allah dan juga bersamaan disisi manusia itu sendiri, dia akan dimuliakan Allah dan diangkat derajatnya melebihi orang-orang lainnya di dunia maupun di akhirat. Banyak ayat-ayat al-quran yang menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan itu. Banyak kita jumpai dalam al-quran kalimat afala tubsirun, afala ta'lamun, afala ta'qilun, afala tadzakarun yang menunjukkan sangat pentingnya pengetahuan itu.
Akan tetapi, meskipun Al-quran dan al-hadis sudah berulang-ulang kali mengingatkan betapa pentingnya ilmu, dan juga berulang kali menyuruh untuk mencari ilmu, kenapa masih banyak saja orang yang tidak berpengetahuan di dunia ini?. Mungkin salah satu faktor ketidakberilmuan mereka adalah masalah biaya dan ini sudah menjadi cerita lama dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Bagi yang sudah membaca buku laskar pelangi mungkin tahu cerita seorang Lintang yang begitu jenius harus menyerah pada nasib untuk tidak meneruskan belajarnya ke jenjang yang lebih tinggi hanya karena faktor biaya saja, dan banyak sekali cerita-cerita seperti itu di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Saya teringat cerita gus Sholah ketika beliau berkunjung ke Tarim beberapa waktu yang lalu. Diceritakan beliau mempunyai seeorang cucu yang masih kecil, sang cucu tersebut ketika masuk SD ternyata tidak cocok dengan lingkungan sekolahnya, kemudian diapun berpindah ke sekolah lainnya dan merasa tidak cocok lagi, kemudian berpindah lagi ke lain sekolah. Dan barulah setelah kepindahannya yang ketiga ini dia merasa cocok dengan lingkungan sekolahnya. Padahal sang orang tua sudah mengeluarkan uang banyak untuk membiayai dia masuk ke sekolah tersebut, maklumlah sekolah yang dimasuki bertarif tinggi, hanya untuk golongan menengah ke atas saja. Lalu apa yang membuat sang cucu tidak betah di dua sekolah sebelumnya? Padahal kalau dipikir-pikir dengan biaya yang begitu mahal dan fasilitas yang lengkap pastinya akan membuat sang anak betah dan kerasan untuk belajar di sekolah tersebut. Apa ada yang salah dalam sekolah tersebut?
Satu cerita lagi yang saya dapat dari beliau, waktu UAN (Ujian Akhir Nasional) di sebuah SMA di salah satu propinsi di Sumatra anggota kepolisian berhasil menggrebek sekelompok guru yang sedang bekerja membenahi jawaban murid-muridnya. Lalu siapa yang salah dalam kasus ini? Dapatkah sang guru disalahkan karena ketidakbecusannya mengajar dan mendidik murid-muridnya? Atau sang muridlah yang harus disalahkan karena tidak mau belajar? Atau mungkin dua-duanya yang disalahkan? Kalau kita simak cerita gus Sholah di atas, tentunya jawaban yang di dapat adalah belum sepadannya biaya pendidikan – yang tentunya begitu besar- dengan mutu pendidikan yang dikeluarkan.
Satu lagi cerita yang menunjukkan betapa mahalnya pendidikan itu bagi masyarakat Indonesia adalah ketika ada salah seorang teman yang bertanya kepada Dubes RI untuk negara Yaman disaat kunjungan beliau ke Tarim awal musim dingin beberapa bulan lalu. Dia bertanya apakah ada beasiswa dari pemerintah ( DEPAG ) untuk para pelajar yang belajar di Yaman seperti yang diberikan DEPAG kepada para pelajar di Mesir, sehingga dengan adanya beasiswa dari pemerintah tersebut diharapkan akan dapat meringankan beban biaya yang ditanggung para pelajar?. Dengan kelihatan agak setengah hati pak Dubes menjawab bahwa hal itu akan diusahakannya meskipun sepertinya beliau juga tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Hal tersebut ditanyakan karena memang faktor terbesar sedikitnya pelajar yang belajar di Yaman khususnya Tarim adalah faktor biaya. Padahal Tarim merupakan salah satu tempat untuk mencetak para sarjana yang beraliran ahlu sunnah wal jamaah, sedangkan untuk pengiriman mahasiswa ke Iran misalnya, beasiswa selalu ada dan kesempatan terbuka lebar, padahal Iran jelas-jelas mencetak kader yang beraliran syiah.
Begitulah pendidikan di Indonesia, mutu pendidikan yang belum dapat dipertanggung jawabkan akan tetapi biaya pendidikannya mahalnya sudah selangit. Kapankah terdapat pendidikan murah di Indonesia? Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar